
Ketika perusahaan membutuhkan excavator untuk mendukung pekerjaan konstruksi, pertambangan, perkebunan, maupun pekerjaan pemindahan material, keputusan membeli unit baru atau excavator bekas tidak cukup hanya dilihat dari harga pembelian. Harga investasi memang menjadi salah satu pertimbangan utama, tetapi biaya operasional selama unit bekerja juga menentukan apakah investasi tersebut benar-benar ekonomis dalam jangka panjang.
Excavator baru umumnya menawarkan kondisi komponen yang masih prima, teknologi yang lebih modern, serta risiko kerusakan yang relatif lebih rendah pada periode awal pemakaian. Di sisi lain, excavator bekas memiliki harga pembelian yang lebih rendah sehingga kebutuhan modal awal dapat ditekan. Namun, unit dengan hour meter tinggi dapat membutuhkan biaya perawatan, penggantian komponen, dan perbaikan yang lebih besar.
Karena itu, perbandingan sebaiknya dilakukan dengan melihat Total Cost of Ownership (TCO) atau biaya kepemilikan dan pengoperasian secara keseluruhan, bukan hanya harga unit.
Apa Saja Komponen Biaya Operasional Excavator?
Biaya operasional excavator dapat dikelompokkan menjadi beberapa komponen utama, yaitu biaya bahan bakar, preventive maintenance, corrective maintenance, undercarriage, attachment atau GET, pelumas dan filter, operator, serta depresiasi atau biaya kepemilikan.
Secara sederhana, biaya operasi per jam dapat dihitung dengan rumus:
Biaya Operasional per Jam = Fuel Cost + Maintenance Cost + Repair Cost + Undercarriage + GET + Operator + Biaya Kepemilikan
Besarnya masing-masing komponen tentu berbeda tergantung kelas excavator, kondisi unit, jenis pekerjaan, jam kerja, lingkungan operasi, serta kualitas program maintenance.
Contoh Perbandingan Excavator Baru dan Bekas
Sebagai ilustrasi, misalnya perusahaan sedang mempertimbangkan excavator kelas 20 ton untuk bekerja selama 2.000 jam per tahun. Perusahaan mempunyai dua pilihan, yaitu membeli unit baru atau excavator bekas dengan usia sekitar lima tahun.
Angka berikut merupakan simulasi untuk memperlihatkan cara membandingkan biaya, sehingga bukan merupakan harga atau biaya standar untuk semua merek dan kondisi unit.
| Komponen | Excavator Baru | Excavator Bekas |
|---|---|---|
| Harga investasi | Rp2,0 miliar | Rp1,1 miliar |
| Konsumsi fuel | 14 liter/jam | 15 liter/jam |
| Harga fuel simulasi | Rp13.000/liter | Rp13.000/liter |
| Fuel cost/jam | Rp182.000 | Rp195.000 |
| Maintenance & repair | Rp120.000/jam | Rp200.000/jam |
| Undercarriage & GET | Rp70.000/jam | Rp100.000/jam |
| Operator | Rp45.000/jam | Rp45.000/jam |
| Biaya kepemilikan/depresiasi | Rp150.000/jam | Rp90.000/jam |
| Total biaya/jam | Rp567.000 | Rp630.000 |
Dari simulasi tersebut terlihat bahwa harga pembelian excavator bekas yang lebih rendah tidak otomatis membuat biaya per jam lebih murah.
Excavator baru mempunyai biaya investasi yang jauh lebih tinggi, tetapi biaya maintenance, repair, dan komponen yang berkaitan dengan kondisi unit relatif lebih rendah. Sebaliknya, excavator bekas membutuhkan modal awal yang lebih kecil, tetapi biaya perawatannya dapat meningkat karena beberapa komponen sudah mengalami keausan.
Menghitung Biaya Tahunan
Dengan asumsi kedua excavator bekerja 2.000 jam per tahun, biaya operasional berdasarkan simulasi tersebut menjadi:
Excavator baru:
Rp567.000 × 2.000 jam = Rp1,134 miliar per tahun
Excavator bekas:
Rp630.000 × 2.000 jam = Rp1,260 miliar per tahun
Dengan demikian, pada simulasi tersebut excavator bekas membutuhkan biaya operasi sekitar Rp126 juta lebih tinggi per tahun, meskipun harga pembeliannya lebih rendah.
Namun, angka tersebut belum cukup untuk menentukan pilihan investasi. Perusahaan juga perlu melihat produktivitas unit.
Biaya per Jam Harus Dikaitkan dengan Produktivitas
Excavator tidak menghasilkan keuntungan hanya karena mampu bekerja selama delapan jam sehari. Yang lebih penting adalah berapa banyak material yang dapat dipindahkan dalam setiap jam kerjanya.
Misalnya excavator baru mampu menghasilkan rata-rata 120 bcm/jam, sedangkan excavator bekas karena kondisi hydraulic system, attachment, engine performance, atau cycle time yang kurang optimal hanya menghasilkan 105 bcm/jam.
Dengan biaya operasi simulasi sebelumnya, biaya per bcm menjadi:
Excavator baru:
Rp567.000 ÷ 120 bcm = Rp4.725/bcm
Excavator bekas:
Rp630.000 ÷ 105 bcm = Rp6.000/bcm
Artinya, walaupun harga investasi excavator bekas lebih murah, biaya untuk menghasilkan satu bcm material justru dapat lebih tinggi.
Inilah alasan mengapa evaluasi alat berat sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa biaya operasi per jam?”, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan, “Berapa biaya untuk menghasilkan satu unit produksi?”
Risiko Breakdown Juga Harus Diperhitungkan
Salah satu perbedaan penting antara unit baru dan bekas adalah risiko downtime.
Excavator bekas dengan hour meter tinggi memiliki kemungkinan lebih besar membutuhkan perbaikan pada komponen tertentu, terutama jika histori maintenance sebelumnya tidak lengkap. Komponen seperti hydraulic pump, travel motor, swing motor, final drive, cylinder, engine, cooling system, dan electrical system dapat memberikan dampak biaya yang signifikan ketika mengalami kerusakan.
Misalnya sebuah excavator bekas mengalami breakdown selama 80 jam dalam setahun. Jika produktivitas normalnya 105 bcm/jam, maka potensi produksi yang hilang mencapai:
80 jam × 105 bcm = 8.400 bcm
Angka tersebut belum memasukkan biaya spare part, tenaga kerja mekanik, mobilisasi teknisi, maupun biaya akibat keterlambatan pekerjaan.
Karena itu, availability dan reliability menjadi faktor penting dalam membandingkan excavator baru dan bekas.
Jangan Hanya Melihat Hour Meter
Hour meter memang penting, tetapi tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator kondisi excavator.
Dua unit dengan hour meter yang sama dapat memiliki kondisi berbeda karena pola penggunaannya juga berbeda. Excavator yang digunakan untuk pekerjaan ringan dengan maintenance disiplin dapat memiliki kondisi lebih baik dibandingkan unit dengan jam kerja sama yang digunakan dalam pekerjaan berat dan kurang mendapatkan perawatan.
Saat mengevaluasi excavator bekas, perusahaan sebaiknya memeriksa histori maintenance, kondisi engine, hydraulic system, undercarriage, attachment, struktur dan frame, electrical system, cooling system, serta melakukan pengujian unit di lapangan.
Jika memungkinkan, pemeriksaan juga dilakukan melalui oil analysis, hydraulic pressure test, engine performance test, serta pengecekan komponen menggunakan data dari sistem monitoring unit.
Excavator Baru Tidak Selalu Berarti Lebih Murah
Excavator baru memiliki sejumlah keuntungan seperti risiko kerusakan awal yang relatif lebih rendah, warranty dari distributor atau principal, teknologi yang lebih baru, dan kemungkinan efisiensi fuel yang lebih baik.
Namun, harga pembelian yang tinggi membuat beban investasi dan biaya kepemilikan menjadi lebih besar. Jika excavator hanya digunakan beberapa ratus jam per tahun, investasi unit baru belum tentu menghasilkan efisiensi ekonomi yang optimal.
Sebagai contoh, perusahaan dengan kebutuhan pekerjaan proyek yang hanya berlangsung selama beberapa bulan perlu menghitung apakah membeli excavator baru lebih ekonomis dibandingkan membeli unit bekas atau bahkan menyewa excavator.
Excavator Bekas Bisa Menjadi Pilihan Ekonomis
Excavator bekas mempunyai keunggulan utama berupa investasi awal yang lebih rendah. Dengan modal yang sama, perusahaan bahkan dapat memperoleh beberapa unit bekas dibandingkan satu unit baru, tergantung kondisi pasar dan spesifikasi unit.
Keuntungan tersebut dapat menjadi menarik apabila perusahaan mempunyai tim maintenance yang kuat, akses spare part yang baik, teknisi berpengalaman, dan kemampuan melakukan overhaul atau component replacement secara terencana.
Namun, perusahaan perlu menyediakan repair reserve atau dana cadangan untuk menghadapi kerusakan komponen besar. Tanpa perencanaan tersebut, biaya yang terlihat murah di awal dapat meningkat secara signifikan setelah unit mulai beroperasi.
Gunakan Pendekatan Cost per BCM
Untuk perusahaan yang menggunakan excavator dalam pekerjaan produksi, indikator yang lebih relevan adalah cost per bcm atau biaya produksi per bcm.
Rumus sederhananya:
Cost per BCM = Total Cost Excavator ÷ Produksi Excavator
Total cost sebaiknya mencakup biaya fuel, maintenance, repair, GET, undercarriage, operator, depresiasi, serta biaya yang berkaitan dengan downtime apabila data tersebut tersedia.
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat membandingkan dua unit berdasarkan kontribusinya terhadap produksi, bukan hanya berdasarkan harga pembelian.
Kesimpulan
Membandingkan excavator baru dan excavator bekas membutuhkan analisis yang lebih luas daripada sekadar membandingkan harga beli. Excavator baru umumnya memberikan kondisi unit yang lebih terprediksi, teknologi yang lebih baru, serta risiko repair yang relatif lebih rendah pada periode awal. Sementara itu, excavator bekas menawarkan investasi awal yang lebih rendah, tetapi perlu diimbangi dengan pemeriksaan kondisi unit, histori maintenance, dan perhitungan risiko perbaikan.
Dalam pengambilan keputusan, perusahaan sebaiknya menghitung setidaknya biaya operasi per jam, biaya per bcm, produktivitas, fuel consumption, maintenance cost, repair cost, availability, downtime, dan depresiasi.
Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “Mana yang harga belinya lebih murah?”, melainkan “Mana yang mampu menghasilkan produksi sesuai target dengan total biaya per unit produksi yang dapat diterima?”
Pada akhirnya, excavator baru maupun bekas dapat menjadi pilihan yang ekonomis apabila karakteristik unit, pola pekerjaan, target produksi, jam kerja tahunan, kemampuan maintenance, dan kondisi keuangan perusahaan diperhitungkan secara bersamaan.
(ES)
Related posts:
Mengenal REEV pada Dump Truck Tambang: Saat Motor Listrik Mendapat Dukungan Range Extender
Mengenal Retarder pada Dump Truck: Teknologi Penting untuk Mengendalikan Beban Berat di Jalan Menuru...
Mengenal Common Rail Injection pada Alat Berat dan Pengaruhnya terhadap Konsumsi Fuel
Kesalahan Saat Manuver Wheel Loader yang Sering Diabaikan Operator
Cara Menghitung Kebutuhan Charging Facility untuk Alat Berat EV
Alat Berat Listrik untuk Operasi 24 Jam: Tantangan Pengisian Daya dan Penggantian Baterai
