
Penggunaan biodiesel B50 mulai menjadi perhatian penting bagi fleet owner alat berat karena perubahan komposisi bahan bakar tidak hanya berkaitan dengan harga dan konsumsi solar, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap biaya operasional serta pola perawatan unit. Bagi pemilik fleet, dampaknya perlu dilihat secara menyeluruh melalui perhitungan Owning & Operating Cost (O&O Cost) agar keputusan penggunaan bahan bakar tetap didasarkan pada biaya per jam atau biaya per unit produksi.
B50 merupakan campuran bahan bakar diesel dengan kandungan biodiesel sebesar 50 persen. Dibandingkan sekadar melihat harga bahan bakar per liter, fleet owner perlu menghitung bagaimana perubahan bahan bakar tersebut berhubungan dengan konsumsi fuel, produktivitas unit, maintenance, downtime, hingga umur komponen.
- Hitung Fuel Consumption per Jam Komponen pertama yang perlu diperhatikan adalah konsumsi bahan bakar. Fleet owner sebaiknya tidak hanya membandingkan harga B50 dengan bahan bakar sebelumnya, tetapi mencatat konsumsi aktual dalam satuan liter per hour (LPH).
Sebagai contoh, apabila sebuah excavator sebelumnya mengonsumsi rata-rata 25 liter per jam, kemudian setelah menggunakan B50 konsumsi aktual menjadi 26 liter per jam, perubahan tersebut perlu dimasukkan ke dalam perhitungan operating cost.
Rumus sederhananya:
Fuel Cost per Hour = Fuel Consumption (L/h) × Harga Fuel per Liter
Dari sini fleet owner dapat mengetahui berapa rupiah yang dikeluarkan untuk bahan bakar setiap jam operasi.
Pengukuran sebaiknya dilakukan berdasarkan data aktual fleet dalam kondisi kerja yang relatif sama, karena konsumsi fuel sangat dipengaruhi oleh beban kerja, cycle time, kondisi jalan, operator, idle time, dan kondisi unit.
- Jangan Hanya Menghitung Harga Solar per Liter Harga fuel memang menjadi komponen besar dalam operating cost, tetapi harga per liter bukan satu-satunya indikator.
Fleet owner perlu melihat fuel cost per hour dan, jika unit digunakan untuk pekerjaan produksi, lebih jauh lagi menghitung fuel cost per BCM, ton, atau unit produksi lainnya.
Sebagai contoh, dua unit dapat memiliki konsumsi fuel yang berbeda, tetapi unit dengan konsumsi lebih tinggi belum tentu menghasilkan biaya produksi yang lebih tinggi apabila produktivitasnya juga lebih besar.
Karena itu, penggunaan B50 idealnya dianalisis bersama data produktivitas.
- Periksa Pengaruh B50 terhadap Maintenance Cost Perubahan bahan bakar juga perlu dikaitkan dengan biaya maintenance. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi filter fuel, sistem fuel injection, water separator, serta kebersihan dan kualitas bahan bakar yang masuk ke engine.
Fleet owner perlu mencatat biaya penggantian filter, interval service, penggunaan spare parts, dan pekerjaan maintenance yang berkaitan dengan sistem bahan bakar.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan baseline sebelum penggunaan B50.
Namun, setiap engine dan alat berat dapat memiliki persyaratan bahan bakar yang berbeda. Karena itu, rekomendasi dari manufacturer mengenai spesifikasi fuel, filtration, storage, serta maintenance tetap menjadi acuan utama.
- Perhatikan Fuel Quality dan Penyimpanan Dalam perhitungan O&O Cost, kualitas fuel juga tidak boleh dipisahkan dari biaya maintenance.
Biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan diesel berbasis fosil, sehingga fleet owner perlu memperhatikan pengelolaan penyimpanan dan distribusi fuel. Tangki penyimpanan, kebersihan sistem, kandungan air, kontaminasi, serta prosedur handling dapat memengaruhi kualitas bahan bakar yang akhirnya masuk ke unit.
Jika kualitas fuel buruk dan menyebabkan masalah pada sistem bahan bakar, biaya yang muncul bukan hanya harga filter atau spare parts, tetapi juga potensi downtime dan kehilangan produksi.
Dengan demikian, fuel management merupakan bagian dari O&O Cost, bukan sekadar aktivitas logistik.
- Masukkan Downtime ke Dalam Perhitungan Salah satu kesalahan dalam menghitung operating cost adalah hanya memasukkan biaya yang terlihat, seperti fuel dan spare parts, tetapi mengabaikan kehilangan produksi akibat downtime.
Jika sebuah unit berhenti karena masalah pada sistem fuel, fleet owner perlu menghitung:
Downtime Cost = Lost Production + Biaya Perbaikan + Biaya Pendukung
Besarnya lost production tentu berbeda untuk setiap aplikasi. Pada fleet tambang, misalnya, downtime excavator dapat berdampak pada produksi excavator itu sendiri sekaligus mengurangi utilisasi dump truck yang menjadi bagian dari fleet.
Karena itu, evaluasi B50 sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah konsumsi fuel naik atau turun, tetapi juga apakah perubahan tersebut berdampak terhadap availability dan produktivitas unit.
- Hitung Cost per Hour dan Cost per Production Untuk fleet owner, angka yang lebih berguna biasanya bukan sekadar total pengeluaran bulanan, tetapi biaya operasi per jam dan biaya per unit produksi.
Secara sederhana:
O&O Cost per Hour = Owning Cost per Hour + Operating Cost per Hour
Operating cost dapat mencakup fuel, lubricants, filters, GET, undercarriage atau tires, maintenance, serta komponen lain yang berkaitan dengan pengoperasian unit.
Sementara owning cost dapat mencakup depreciation, interest atau financing cost, insurance, taxes, dan biaya kepemilikan lainnya sesuai metode perhitungan perusahaan.
Setelah mendapatkan O&O Cost per Hour, fleet owner dapat menghubungkannya dengan produktivitas:
Cost per BCM = O&O Cost per Hour ÷ Produktivitas BCM per Hour
Dengan pendekatan tersebut, perubahan konsumsi B50 dapat dilihat dalam konteks biaya produksi, bukan hanya biaya bahan bakar.
- Bandingkan Data Sebelum dan Sesudah B50 Agar analisis tidak berdasarkan asumsi, fleet owner sebaiknya membuat baseline sebelum penggunaan B50.
Beberapa parameter yang dapat dibandingkan antara lain:
Fuel consumption (L/h)
Fuel cost per hour
Lubricant consumption
Filter consumption
Maintenance cost
Component replacement cost
Machine availability
Utilization
Idle time
Productivity
O&O Cost per hour
O&O Cost per BCM atau ton
Downtime dan lost production
Data tersebut sebaiknya dikumpulkan selama periode yang cukup untuk mendapatkan gambaran operasional yang representatif.
- Jangan Lupakan Faktor Produktivitas Operator Konsumsi fuel tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan bakar. Cara unit dioperasikan juga memiliki pengaruh besar terhadap fuel consumption dan productivity.
Excavator yang terlalu banyak idle, dump truck yang sering melakukan unnecessary acceleration, atau wheel loader yang bekerja dengan cycle time tidak optimal dapat menghasilkan konsumsi fuel yang lebih tinggi tanpa menghasilkan tambahan produksi yang sebanding.
Karena itu, ketika fleet owner membandingkan performa sebelum dan sesudah penggunaan B50, kondisi operasi harus dibuat sebanding sedapat mungkin.
- Buat Dashboard O&O Cost Khusus Fleet Untuk fleet yang terdiri dari banyak unit, pencatatan manual per unit akan semakin sulit ketika jumlah data bertambah. Fleet owner dapat membuat dashboard sederhana yang mencatat fuel consumption, fuel price, operating hours, maintenance cost, downtime, availability, dan production.
Dari data tersebut, fleet manager dapat melihat unit mana yang memiliki konsumsi fuel tinggi, maintenance cost tinggi, atau produktivitas rendah.
B50 kemudian dapat dianalisis sebagai salah satu variabel dalam keseluruhan biaya operasi, bukan sebagai satu-satunya penyebab perubahan biaya.
B50 Harus Dilihat dari Total Cost, Bukan Harga Fuel Semata Bagi fleet owner, perubahan menuju B50 sebaiknya dilihat menggunakan pendekatan total cost of ownership dan operating cost. Harga fuel memang penting, tetapi dampaknya terhadap konsumsi, maintenance, downtime, availability, dan produktivitas dapat menentukan biaya akhir alat berat.
Dengan menghitung O&O Cost secara konsisten, fleet owner dapat mengetahui apakah perubahan yang terjadi benar-benar memengaruhi biaya operasi per jam maupun biaya produksi per BCM atau ton.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya “berapa harga B50 per liter?”, melainkan “berapa biaya yang harus dikeluarkan fleet untuk menghasilkan satu jam operasi atau satu unit produksi dengan B50?”
Pendekatan inilah yang membuat keputusan fuel management menjadi lebih terukur dan relevan dengan target produktivitas fleet.
(PS)
Related posts:
Cara Menghitung Tire Cost per Hour pada Dump Truck Tambang
Cara Menghitung Availability Alat Berat: Simulasi Excavator 250 Ton untuk Target Produksi 20 Juta BC...
Blank Firing pada Hydraulic Breaker: Kebiasaan Kecil yang Bisa Merusak Komponen Besar
Mechanical Availability vs Physical Availability: Apa Bedanya?
Prosedur Memarkir Alat Berat EV: Jangan Sembarangan Mematikan dan Meninggalkannya
Cara Menghitung Tarif Rental Alat Berat Berdasarkan Owning & Operating Cost
