
Dalam pekerjaan pemindahan material, produktivitas excavator tidak hanya ditentukan oleh kapasitas bucket atau ukuran unit. Salah satu parameter penting yang sangat memengaruhi output adalah cycle time, yaitu waktu yang dibutuhkan excavator untuk menyelesaikan satu siklus kerja dari mulai menggali material hingga kembali ke posisi untuk melakukan penggalian berikutnya.
Semakin singkat cycle time dengan kondisi kerja yang tetap aman dan efektif, semakin banyak siklus yang dapat dilakukan dalam satu jam. Artinya, cycle time memiliki hubungan langsung dengan produktivitas excavator dan pada akhirnya berpengaruh terhadap biaya operasi per satuan material.
Apa Itu Cycle Time Excavator?
Secara umum, satu siklus kerja excavator terdiri dari beberapa tahapan, yaitu digging atau loading, swing loaded, dumping, dan swing empty.
Pada pekerjaan loading ke dump truck, excavator mengambil material menggunakan bucket, kemudian melakukan swing menuju posisi dump truck, menuangkan material, lalu kembali melakukan swing ke arah area penggalian.
Contohnya, apabila satu siklus membutuhkan waktu 25 detik, secara teoritis excavator dapat melakukan sekitar 144 siklus per jam jika bekerja tanpa adanya waktu hilang. Namun, kondisi aktual di lapangan tentu tidak memungkinkan excavator bekerja secara terus-menerus tanpa delay sehingga perhitungan produktivitas perlu memasukkan faktor efisiensi kerja.
Bagaimana Cara Mengukur Cycle Time?
Pengukuran cycle time sebaiknya dilakukan langsung di lapangan dengan mengambil sejumlah sampel siklus kerja. Jangan hanya menggunakan satu kali pengamatan karena waktu setiap siklus dapat berbeda akibat kondisi material, posisi dump truck, keterampilan operator, maupun kondisi area kerja.
Gunakan stopwatch atau sistem monitoring unit untuk mencatat waktu dari awal satu siklus hingga siklus berikutnya dimulai.
Sebagai contoh, dilakukan pengamatan terhadap 10 siklus excavator dan diperoleh waktu:
22, 24, 23, 25, 24, 23, 26, 24, 22, dan 25 detik.
Total waktunya adalah 238 detik sehingga rata-rata cycle time:
238 ÷ 10 = 23,8 detik per siklus
Angka rata-rata tersebut kemudian dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk menghitung potensi produktivitas.
Komponen Cycle Time yang Perlu Diamati
Agar lebih mudah menemukan sumber kehilangan waktu, cycle time sebaiknya tidak hanya dicatat sebagai satu angka. Pisahkan menjadi beberapa aktivitas.
1. Digging dan bucket filling
Perhatikan waktu yang dibutuhkan bucket untuk masuk ke material, mengisi bucket, kemudian melakukan pengangkatan. Material yang keras, terlalu padat, atau tidak sesuai dengan kondisi bucket dapat membuat tahap ini lebih lama.
2. Swing loaded
Ini merupakan waktu ketika excavator melakukan swing dengan bucket yang sudah berisi material menuju dump truck atau lokasi dumping.
Sudut swing sangat berpengaruh. Semakin besar sudut swing, semakin panjang waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus.
3. Dumping
Waktu dumping mencakup proses memosisikan bucket dan menjatuhkan material. Posisi dump truck yang tidak tepat dapat membuat operator harus melakukan koreksi tambahan.
4. Swing empty
Setelah material ditumpahkan, excavator kembali melakukan swing menuju area penggalian. Sama seperti swing loaded, semakin besar sudut swing, semakin besar pula potensi cycle time.
Faktor yang Memengaruhi Cycle Time
Cycle time tidak hanya bergantung pada kemampuan operator. Kondisi seluruh sistem kerja juga ikut menentukan.
Posisi dump truck merupakan salah satu faktor penting. Dump truck yang terlalu jauh, posisi yang tidak konsisten, atau harus melakukan manuver tambahan dapat membuat excavator menunggu.
Kondisi material juga berpengaruh. Material yang mudah digali akan menghasilkan digging time yang berbeda dibandingkan material keras atau material hasil peledakan yang tidak terfragmentasi dengan baik.
Selain itu, sudut swing perlu diperhatikan. Penataan area loading yang memungkinkan excavator bekerja dengan sudut swing lebih kecil dapat membantu mengurangi waktu yang tidak memberikan nilai tambah.
Ukuran dan konfigurasi bucket juga harus sesuai dengan material dan kapasitas excavator. Bucket yang tidak sesuai dapat menyebabkan proses pengisian menjadi lebih lama atau jumlah material per siklus tidak optimal.
Faktor berikutnya adalah operator technique. Gerakan yang terlalu agresif, koreksi posisi yang berulang, atau koordinasi yang kurang baik antara excavator dan dump truck dapat meningkatkan cycle time.
Bagaimana Meningkatkan Cycle Time?
Meningkatkan cycle time bukan berarti sekadar membuat operator bekerja lebih cepat. Tujuan utamanya adalah menghilangkan waktu yang tidak memberikan nilai tambah tanpa mengorbankan keselamatan, kualitas pekerjaan, dan kondisi unit.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan posisi excavator dan dump truck. Layout loading yang baik memungkinkan operator melakukan digging dan swing secara efisien.
Selanjutnya, minimalkan sudut swing. Jika kondisi area memungkinkan, posisi dump truck sebaiknya dirancang agar excavator tidak perlu melakukan swing terlalu jauh.
Pengelolaan material juga penting. Fragmentasi material yang lebih baik dapat membantu bucket melakukan digging dan filling secara lebih efektif.
Dari sisi operator, pelatihan mengenai smooth operation dapat memberikan dampak besar. Gerakan boom, arm, bucket, dan swing yang terkoordinasi dapat membantu mengurangi gerakan yang tidak diperlukan sekaligus menjaga produktivitas.
Selain itu, koordinasi antara excavator dan dump truck perlu diperbaiki. Excavator dengan cycle time yang sangat baik tetap dapat kehilangan produktivitas apabila dump truck sering datang terlambat atau terjadi antrean di area loading.
Contoh Pengaruh Cycle Time terhadap Produktivitas
Misalnya sebuah excavator memiliki bucket aktual sebesar 2 m³ dan rata-rata cycle time sebesar 24 detik.
Secara teoritis, jumlah siklus per jam adalah:
3.600 ÷ 24 = 150 siklus/jam
Jika setiap siklus menghasilkan 2 m³ material, maka kapasitas teoritisnya:
150 × 2 = 300 m³/jam
Namun, angka tersebut belum memperhitungkan bucket fill factor, job efficiency, kondisi material, waktu tunggu, dan faktor operasional lainnya.
Misalnya efisiensi kerja aktual hanya 75%, maka output sederhananya menjadi:
300 × 75% = 225 m³/jam
Jika cycle time dapat diturunkan menjadi 20 detik dengan kondisi kerja lainnya tetap sama, jumlah siklus secara teoritis meningkat menjadi:
3.600 ÷ 20 = 180 siklus/jam
Dengan bucket 2 m³, kapasitas teoritis menjadi 360 m³/jam. Dengan efisiensi kerja 75%, output sederhananya mencapai sekitar 270 m³/jam.
Contoh ini menunjukkan bahwa pengurangan beberapa detik pada cycle time dapat memberikan perubahan signifikan terhadap potensi output excavator.
Jangan Mengejar Cycle Time dengan Mengorbankan Keselamatan
Cycle time yang lebih pendek memang dapat meningkatkan potensi produktivitas, tetapi mengejar waktu sesingkat mungkin bukan selalu pilihan yang tepat.
Operator tidak seharusnya melakukan gerakan berlebihan atau agresif hanya untuk mendapatkan cycle time yang lebih rendah. Operasi seperti ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan, mempercepat fatigue komponen, dan berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar maupun biaya maintenance.
Karena itu, target cycle time sebaiknya ditetapkan berdasarkan kondisi pekerjaan, spesifikasi unit, material, layout, kemampuan operator, dan standar keselamatan.
Cycle Time Harus Dilihat Bersama Produktivitas
Cycle time merupakan salah satu indikator penting dalam mengevaluasi kinerja excavator, tetapi bukan satu-satunya parameter.
Evaluasi yang lebih lengkap perlu melihat hubungan antara cycle time, bucket fill factor, availability, utilization, job efficiency, matching excavator dengan dump truck, serta actual production.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya mengetahui bahwa cycle time terlalu tinggi, tetapi juga dapat menemukan penyebabnya. Apakah masalah berada pada operator, material, layout loading, dump truck, kondisi unit, atau sistem kerja secara keseluruhan.
Pada akhirnya, peningkatan produktivitas excavator bukan sekadar membuat bucket bergerak lebih cepat. Yang lebih penting adalah membangun siklus kerja yang konsisten, efisien, aman, dan minim waktu tunggu sehingga setiap jam operasi dapat menghasilkan output yang optimal.
(EV)
Related posts:
Menghitung Owning & Operating Cost Alat Berat EV
Mengenal REEV pada Dump Truck Tambang: Saat Motor Listrik Mendapat Dukungan Range Extender
Kesalahan Saat Manuver Wheel Loader yang Sering Diabaikan Operator
Mengenal Retarder pada Dump Truck: Teknologi Penting untuk Mengendalikan Beban Berat di Jalan Menuru...
Jangan Hanya Menghitung Harga Spare Part, Hitung Juga Downtime Alat Berat
Harga Beli Bukan Biaya Sebenarnya: Bongkar Owning & Operating Cost Alat Berat
