
Elektrifikasi kendaraan tambang selama ini identik dengan Battery Electric Vehicle (BEV), yaitu kendaraan yang seluruh sumber energinya berasal dari baterai dan tidak menggunakan engine pembakaran internal. Namun, perkembangan teknologi elektrifikasi kini menghadirkan pendekatan lain yang mencoba menggabungkan karakter penggerak listrik dengan kemampuan operasional yang lebih fleksibel, salah satunya melalui teknologi Range-Extended Electric Vehicle (REEV).
Teknologi tersebut mulai memasuki perhatian industri alat berat Indonesia setelah SANY Group Indonesia memperkenalkan SYZ445C-8REEV pada ajang Mining Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 9–12 September 2026. SANY menyebut model tersebut sebagai teknologi REEV pertama mereka yang masuk ke Indonesia.
Dengan kapasitas angkut hingga 45 ton dan waktu pengisian sekitar 50 menit, SYZ445C-8REEV dirancang sebagai salah satu solusi elektrifikasi untuk kebutuhan angkutan material di area pertambangan.
Apa Itu REEV?
Secara sederhana, Range-Extended Electric Vehicle atau REEV adalah kendaraan yang tetap menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama, tetapi memiliki sumber pembangkit listrik tambahan yang berfungsi memperpanjang jarak atau durasi operasi kendaraan.
Pada konsep REEV, baterai menyuplai energi untuk sistem penggerak elektrik. Ketika energi baterai perlu ditambah, range extender dapat menghasilkan listrik untuk mendukung sistem tersebut. Pada kendaraan REEV yang menggunakan engine pembakaran internal sebagai range extender, engine tersebut pada prinsipnya berfungsi sebagai generator, bukan sebagai penggerak utama roda secara langsung.
Inilah salah satu karakter yang membedakan REEV dengan kendaraan hybrid konvensional. Pada hybrid, engine pembakaran internal dapat menjadi bagian dari sistem penggerak kendaraan. Sementara pada REEV, motor listrik tetap menjadi elemen utama yang menggerakkan kendaraan.
Konsep ini menjadi menarik untuk aplikasi pertambangan karena karakter operasi dump truck berbeda dengan kendaraan penumpang. Dump truck tambang bekerja dalam siklus yang berulang, membawa muatan berat, menghadapi tanjakan dan turunan, serta harus mempertahankan produktivitas selama jam operasi yang panjang.
Lalu, Apa Bedanya REEV dengan BEV?
Perbedaan paling mendasar terletak pada sumber energi tambahan dan ketergantungan terhadap charging infrastructure.
Pada BEV murni, kendaraan hanya memiliki baterai sebagai sumber energi untuk sistem penggerak listrik. Tidak terdapat engine pembakaran internal maupun generator berbahan bakar yang dapat menghasilkan listrik tambahan selama kendaraan beroperasi.
Karena itu, energi yang digunakan kendaraan sepenuhnya harus berasal dari baterai yang sebelumnya telah diisi melalui charging station. Ketika kapasitas baterai mencapai batas operasional, kendaraan perlu kembali melakukan pengisian.
Sementara itu, REEV tetap menggunakan baterai dan motor listrik sebagai inti sistem penggeraknya, tetapi memiliki range extender sebagai sumber listrik tambahan. Kehadiran sistem ini memberikan alternatif ketika kendaraan harus bekerja dalam kondisi yang membuat pengisian baterai secara penuh atau berulang menjadi tantangan.
Dengan kata lain, jika BEV dapat dianalogikan sebagai kendaraan yang seluruh energinya disimpan terlebih dahulu di dalam baterai, REEV memiliki baterai sebagai sumber energi utama yang dapat memperoleh dukungan energi tambahan selama operasi melalui range extender.
| Aspek | BEV | REEV |
|---|---|---|
| Penggerak roda | Motor listrik | Motor listrik |
| Baterai | Sumber energi utama | Sumber energi utama |
| Engine pembakaran internal | Tidak ada | Dapat digunakan sebagai range extender/generator |
| Pengisian baterai | Menjadi kebutuhan utama | Tetap diperlukan, tetapi range extender dapat mendukung suplai energi |
| Emisi dari engine | Tidak ada | Bergantung pada jenis dan penggunaan range extender |
| Ketergantungan charging infrastructure | Tinggi | Dapat lebih fleksibel tergantung desain dan strategi operasi |
| Karakter utama | Electric murni | Electric dengan tambahan sumber energi untuk memperpanjang operasi |
Perlu dicatat bahwa detail arsitektur setiap kendaraan REEV dapat berbeda. Karena itu, istilah REEV sebaiknya tidak langsung disamakan dengan hybrid konvensional. Pada konsep dasarnya, yang membedakan adalah motor listrik tetap menjadi penggerak utama, sementara range extender bertugas menyediakan energi tambahan.
Mengapa REEV Menarik untuk Dump Truck Tambang?
Pertambangan memiliki karakter operasi yang sangat berbeda dengan penggunaan kendaraan listrik di jalan raya. Dump truck tidak hanya membutuhkan tenaga besar, tetapi juga harus bekerja dengan pola loading–hauling–dumping–return secara berulang.
Dalam kondisi seperti ini, waktu berhenti kendaraan mempunyai hubungan langsung dengan produktivitas fleet. Jika sebuah dump truck harus berhenti terlalu lama untuk charging, maka waktu available unit berkurang dan dapat berdampak pada utilisasi armada.
Di sinilah konsep REEV memiliki konteks yang menarik. Ketika sumber listrik atau infrastruktur charging belum tersedia secara optimal di suatu lokasi tambang, adanya range extender dapat memberikan fleksibilitas tambahan terhadap strategi operasi.
SANY sendiri menyebut SYZ445C-8REEV ditujukan antara lain untuk area yang memiliki keterbatasan sumber listrik. Model tersebut diperkenalkan bersama sejumlah produk elektrifikasi SANY lainnya pada Mining Indonesia 2026.
SYZ445C-8REEV, Langkah SANY Memperkenalkan REEV ke Indonesia
Kehadiran SYZ445C-8REEV menjadi menarik karena SANY tidak hanya membawa dump truck listrik ke pasar Indonesia, tetapi memperkenalkan pendekatan elektrifikasi yang berbeda.
SANY Global sebelumnya mengumumkan bahwa SYZ445C-8REEV akan menjadi salah satu produk yang ditampilkan pada Mining Indonesia 2026 bersama SE588 electric heavy-duty truck dan SRT100S hybrid wide-body truck. Pameran tersebut berlangsung pada 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Setelah pameran berlangsung, SANY Group Indonesia menyampaikan bahwa SYZ445C-8REEV memiliki payload hingga 45 ton dan membutuhkan waktu pengisian sekitar 50 menit. SANY juga menyebut teknologi REEV pada model tersebut sebagai teknologi REEV pertama SANY yang masuk ke Indonesia.
Kehadiran model ini sekaligus memperlihatkan bahwa elektrifikasi kendaraan tambang tidak harus selalu dipahami sebagai pilihan antara dump truck diesel dan BEV murni. Di antara keduanya terdapat berbagai pendekatan teknologi, termasuk hybrid dan REEV, yang dapat disesuaikan dengan kondisi operasi.
REEV Bukan Berarti Bebas dari Infrastruktur Charging
Meskipun memiliki range extender, REEV tidak berarti kendaraan tersebut tidak membutuhkan charging station.
Baterai tetap merupakan bagian penting dari sistem penggerak elektrik sehingga strategi charging tetap harus diperhitungkan dalam perencanaan operasi. Perbedaannya adalah adanya sumber energi tambahan yang dapat membantu menjaga ketersediaan energi ketika kondisi operasi tidak memungkinkan kendaraan hanya mengandalkan baterai.
Karena itu, bagi perusahaan tambang, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “berapa besar baterainya?”, tetapi juga bagaimana sistem tersebut berintegrasi dengan pola kerja fleet.
Beberapa parameter yang perlu diperhatikan antara lain jarak hauling, cycle time, payload, elevasi jalan angkut, kondisi jalan, jumlah ritase per shift, jam kerja, charging opportunity, konsumsi energi, serta strategi pengisian dan penggunaan range extender.
Dengan pendekatan tersebut, pemilihan REEV dapat dilihat sebagai bagian dari fleet engineering, bukan semata-mata keputusan membeli kendaraan dengan teknologi baru.
Bagaimana dengan Emisinya?
Di sinilah REEV juga berbeda dari BEV murni.
BEV tidak memiliki engine pembakaran internal sehingga ketika beroperasi tidak menghasilkan emisi knalpot dari kendaraan. REEV yang menggunakan engine sebagai range extender tetap memiliki sumber emisi ketika engine tersebut bekerja.
Namun, sistem REEV memungkinkan kendaraan tetap menggunakan penggerak elektrik sebagai inti sistem propulsi. Besarnya penggunaan range extender dan dampaknya terhadap konsumsi bahan bakar serta emisi sangat bergantung pada desain kendaraan dan strategi pengoperasiannya.
Karena itu, REEV lebih tepat dipahami sebagai teknologi transisi atau pendekatan elektrifikasi dengan fleksibilitas sumber energi, bukan sebagai kendaraan listrik murni seperti BEV.
Dari Sisi Operasional, Apa yang Harus Dihitung?
Bagi perusahaan tambang, teknologi baru sebaiknya tidak hanya dinilai dari spesifikasi unit. Perhitungan yang lebih penting adalah bagaimana kendaraan tersebut memengaruhi biaya dan produktivitas selama satu siklus operasi.
Misalnya, perusahaan dapat membandingkan:
Biaya energi per ton-kilometer → cycle time → payload → ritase → availability → utilization → produktivitas → total cost of ownership.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena biaya operasi alat angkut bukan hanya ditentukan oleh konsumsi energi. Availability, downtime, biaya maintenance, umur baterai, biaya charging infrastructure, harga energi, serta dukungan after-sales juga ikut menentukan keekonomian sebuah fleet.
SANY Group Indonesia sendiri menyampaikan bahwa elektrifikasi alat berat berpotensi menekan biaya operasional hingga 60 persen dan biaya perawatan hingga 50 persen. Angka tersebut merupakan klaim perusahaan dan penerapannya tentu perlu dievaluasi berdasarkan kondisi operasi masing-masing tambang.
REEV dan Masa Depan Elektrifikasi Alat Berat
Kehadiran SYZ445C-8REEV di Mining Indonesia 2026 memperlihatkan bahwa perkembangan elektrifikasi alat berat mulai bergerak ke arah yang semakin beragam. Industri tidak hanya berbicara mengenai BEV murni, tetapi juga mengeksplorasi teknologi hybrid dan REEV untuk menjawab kondisi operasi yang berbeda-beda.
Bagi Indonesia, pendekatan seperti ini relevan karena karakteristik tambang sangat beragam. Ada lokasi yang memiliki infrastruktur listrik memadai, tetapi ada pula area yang membutuhkan solusi energi yang lebih fleksibel.
Karena itu, REEV dapat menjadi salah satu opsi yang menarik untuk dikaji, terutama ketika perusahaan menginginkan manfaat dari sistem penggerak elektrik tetapi masih menghadapi keterbatasan pada sisi infrastruktur charging dan pasokan listrik.
Pada akhirnya, baik BEV maupun REEV memiliki karakteristik masing-masing. BEV menawarkan sistem elektrifikasi murni dengan baterai sebagai satu-satunya sumber energi, sedangkan REEV mempertahankan motor listrik sebagai penggerak utama dengan tambahan sumber energi untuk memperpanjang kemampuan operasi.
Diperkenalkannya SYZ445C-8REEV oleh SANY Group Indonesia di Mining Indonesia 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana konsep tersebut mulai diperkenalkan ke industri pertambangan Indonesia. Dengan payload hingga 45 ton dan waktu pengisian sekitar 50 menit, unit ini menjadi bagian dari perkembangan pilihan teknologi angkutan tambang berbasis elektrifikasi di Indonesia.
Yang menarik untuk diamati selanjutnya bukan hanya bagaimana teknologi REEV bekerja, tetapi bagaimana teknologi tersebut akan diterapkan dalam kondisi tambang nyata, termasuk pengaruhnya terhadap fuel consumption, energy consumption, cycle time, availability, maintenance cost, productivity, dan total cost per ton.
(BS)
Related posts:
Electronic Fence pada Alat Berat: Teknologi Safety untuk Mencegah Area Kerja Terlalu Dekat dengan Ba...
Sailun Terramax M/T 2: Ban Mud-Terrain Buatan Indonesia untuk Medan Tambang dan Off-Road
Mengenal Jenis-Jenis Grease untuk Alat Berat dan Aplikasinya
Volvo Wheel Loader L120 Electric vs L120 Diesel: Mana yang Lebih Produktif dan Ekonomis?
Straddle Carrier: Alat Angkut Kontainer yang Dirancang untuk Kecepatan dan Efisiensi di Terminal
XCMG Bangun Pusat Remanufaktur di Balikpapan, Perkuat Layanan Alat Berat di Indonesia
