
Peralihan dari alat berat bermesin diesel menuju alat berat berbasis listrik atau electric vehicle (EV) mulai membuka cara pandang baru dalam menghitung biaya operasional. Jika pada excavator konvensional konsumsi bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya terbesar, pada electric excavator komponen tersebut digantikan oleh konsumsi energi listrik.
Namun, bukan berarti biaya alat berat EV cukup dihitung dari berapa besar tagihan listriknya. Harga pembelian unit, penyusutan, biaya modal, maintenance, penggantian baterai, undercarriage hingga biaya operator tetap harus dimasukkan agar perusahaan memperoleh gambaran biaya yang lebih realistis.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Owning & Operating Cost atau O&O Cost.
Apa Itu Owning & Operating Cost?
Secara sederhana, biaya penggunaan alat berat dapat dibagi menjadi dua kelompok utama:
Owning Cost merupakan biaya yang muncul karena perusahaan memiliki unit, baik unit tersebut sedang bekerja maupun tidak.
Sementara itu, Operating Cost merupakan biaya yang muncul akibat alat digunakan untuk beroperasi.
Secara umum:
Total O&O Cost per Jam = Owning Cost per Jam + Operating Cost per Jam
Untuk memahami perhitungannya, mari menggunakan contoh sebuah electric excavator kelas 20 ton.
Asumsi Data Electric Excavator
Dalam simulasi ini digunakan beberapa asumsi berikut:
Harga pembelian unit: Rp3.800.000.000
Umur ekonomis: 8 tahun
Jam operasi: 2.000 jam/tahun
Total umur ekonomis: 16.000 jam
Nilai sisa unit: 10% dari harga pembelian
Suku bunga atau cost of capital: 8% per tahun
Insurance, tax, dan storage: 2% dari harga unit per tahun
Untuk biaya operasional digunakan asumsi:
Konsumsi listrik rata-rata: 120 kWh/jam
Tarif listrik: Rp1.700/kWh
Maintenance dan repair: Rp90.000/jam
Undercarriage: Rp60.000/jam
Lubricant dan consumable: Rp20.000/jam
Operator: Rp45.000/jam
Selain itu, diasumsikan terdapat biaya penggantian battery pack sebesar Rp1,2 miliar setiap 8.000 jam operasi.
Angka-angka tersebut merupakan contoh simulasi dan bukan harga standar untuk seluruh electric excavator. Data aktual harus disesuaikan dengan merek, model, kondisi pekerjaan, kontrak listrik, serta kebijakan maintenance masing-masing perusahaan.
Menghitung Owning Cost
1. Depreciation atau Penyusutan
Harga pembelian electric excavator adalah:
Rp3.800.000.000
Nilai sisa setelah umur ekonomis diasumsikan 10%.
Nilai sisa:
10% × Rp3.800.000.000
= Rp380.000.000
Nilai yang harus disusutkan:
Rp3.800.000.000 − Rp380.000.000
= Rp3.420.000.000
Total umur ekonomis alat:
8 tahun × 2.000 jam/tahun
= 16.000 jam
Sehingga depreciation per jam:
Rp3.420.000.000 ÷ 16.000
= Rp213.750/jam
2. Cost of Capital atau Interest
Selain depresiasi, modal yang tertanam dalam pembelian alat juga memiliki biaya.
Untuk contoh sederhana, average investment dapat dihitung dengan:
Average Investment = (Harga Pembelian + Nilai Sisa) ÷ 2
Sehingga:
(Rp3.800.000.000 + Rp380.000.000) ÷ 2
= Rp2.090.000.000
Dengan cost of capital 8%:
Rp2.090.000.000 × 8%
= Rp167.200.000 per tahun
Jika alat bekerja 2.000 jam per tahun:
Rp167.200.000 ÷ 2.000
= Rp83.600/jam
3. Insurance, Tax, dan Storage
Dalam contoh ini diasumsikan biaya insurance, tax, serta penyimpanan sebesar 2% dari harga pembelian per tahun.
2% × Rp3.800.000.000
= Rp76.000.000 per tahun
Per jam:
Rp76.000.000 ÷ 2.000
= Rp38.000/jam
Dengan demikian, total Owning Cost menjadi:
Depreciation = Rp213.750/jam
Cost of capital = Rp83.600/jam
Insurance, tax, storage = Rp38.000/jam
Total Owning Cost = Rp335.350/jam
Menghitung Operating Cost Electric Excavator
Perbedaan paling mencolok antara excavator EV dan excavator diesel mulai terlihat pada bagian operating cost.
1. Biaya Energi Listrik
Misalkan electric excavator mengonsumsi energi rata-rata:
120 kWh/jam
Dengan tarif listrik:
Rp1.700/kWh
Biaya energi:
120 × Rp1.700
= Rp204.000/jam
Komponen inilah yang dapat dibandingkan dengan fuel cost pada excavator diesel.
Jika excavator diesel mengonsumsi 15–20 liter solar per jam, perubahan harga bahan bakar dapat memberikan dampak besar terhadap operating cost. Pada alat EV, sensitivitas biaya bergeser kepada konsumsi kWh dan tarif listrik yang digunakan.
2. Maintenance dan Repair
Electric heavy equipment pada umumnya memiliki konfigurasi powertrain yang berbeda dari mesin diesel. Beberapa komponen seperti engine oil, fuel filter dan sebagian sistem terkait mesin pembakaran tidak lagi digunakan.
Namun, bukan berarti maintenance cost menjadi nol.
Hydraulic system, attachment, bearing, cooling system, electric motor, inverter, wiring, controller dan berbagai komponen lainnya tetap membutuhkan inspection dan maintenance.
Dalam simulasi ini digunakan:
Maintenance & repair = Rp90.000/jam
3. Undercarriage
Excavator tetap memiliki komponen undercarriage seperti track shoe, roller, idler dan sprocket.
Misalkan perusahaan mengalokasikan:
Undercarriage cost = Rp60.000/jam
Besarnya biaya ini dapat berubah secara signifikan tergantung kondisi medan.
Pekerjaan pada batu, quarry atau area abrasif biasanya menghasilkan undercarriage cost yang lebih tinggi dibanding pekerjaan pada tanah lunak.
4. Battery Replacement Reserve
Ini merupakan salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian khusus pada perhitungan alat berat EV.
Misalkan harga battery pack:
Rp1.200.000.000
Dengan asumsi penggantian setelah:
8.000 jam operasi
Battery replacement reserve:
Rp1.200.000.000 ÷ 8.000
= Rp150.000/jam
Artinya, meskipun perusahaan tidak mengeluarkan Rp150.000 secara tunai setiap jam, biaya tersebut sebaiknya dialokasikan sebagai reserve agar kebutuhan penggantian baterai di masa depan sudah diperhitungkan.
Pada praktik sebenarnya, pendekatan ini harus disesuaikan dengan garansi baterai, residual capacity, kemungkinan refurbishment, harga battery replacement, dan estimasi umur aktual baterai.
5. Lubricant dan Consumable
Walaupun tidak menggunakan engine oil seperti excavator diesel, electric excavator masih membutuhkan beberapa jenis lubricant dan consumable, terutama pada hydraulic system dan komponen mekanis lainnya.
Dalam simulasi:
Lubricant & consumable = Rp20.000/jam
6. Operator
Misalkan total biaya operator setelah memperhitungkan gaji serta benefit adalah:
Rp45.000/jam
Total Operating Cost
Komponen operating cost menjadi:
Energi listrik = Rp204.000/jam
Maintenance & repair = Rp90.000/jam
Undercarriage = Rp60.000/jam
Battery replacement reserve = Rp150.000/jam
Lubricant & consumable = Rp20.000/jam
Operator = Rp45.000/jam
Sehingga:
Total Operating Cost = Rp569.000/jam
Total Owning & Operating Cost
Setelah owning cost dan operating cost diketahui:
Owning Cost = Rp335.350/jam
Operating Cost = Rp569.000/jam
Maka:
Total O&O Cost = Rp335.350 + Rp569.000
= Rp904.350/jam
Dengan asumsi alat bekerja selama 2.000 jam dalam satu tahun:
Rp904.350 × 2.000
= Rp1.808.700.000 per tahun
Artinya, berdasarkan parameter simulasi tersebut, perusahaan perlu memperhitungkan biaya sekitar Rp904 ribu untuk setiap satu jam operasi electric excavator.
Jangan Hanya Melihat Biaya Listrik
Salah satu kekeliruan ketika membandingkan alat berat EV dengan alat diesel adalah hanya membandingkan biaya listrik dengan biaya solar.
Jika electric excavator membutuhkan listrik Rp204.000 per jam, angka tersebut memang terlihat sebagai operating cost yang relatif mudah dihitung. Tetapi keputusan investasi tidak boleh berhenti di sana.
Harga pembelian unit, battery replacement, umur ekonomis, residual value hingga kebutuhan charging infrastructure harus diperhitungkan.
Bahkan dalam beberapa proyek, pembangunan charging station, transformer, electrical distribution system atau energy storage dapat menjadi investasi tersendiri.
Biaya tersebut bisa dimasukkan sebagai capital expenditure proyek kemudian dialokasikan terhadap jumlah alat dan total jam operasi.
Bagaimana Jika Battery Replacement Tidak Dimasukkan?
Menarik juga melihat pengaruh baterai terhadap perhitungan.
Tanpa battery replacement reserve sebesar Rp150.000/jam, operating cost menjadi:
Rp569.000 − Rp150.000
= Rp419.000/jam
Total O&O Cost:
Rp335.350 + Rp419.000
= Rp754.350/jam
Artinya, asumsi mengenai umur serta harga battery pack dapat mengubah hasil perhitungan O&O Cost secara signifikan.
Karena itu, saat mengevaluasi electric heavy equipment, perusahaan sebaiknya meminta informasi yang jelas dari manufacturer mengenai battery warranty, expected battery life, degradation rate, replacement price dan residual capacity.
O&O Cost Belum Menunjukkan Biaya Produksi
Biaya Rp904.350 per jam belum otomatis menunjukkan apakah alat tersebut ekonomis.
Perusahaan masih perlu menghubungkannya dengan produktivitas alat.
Misalnya electric excavator menghasilkan produksi rata-rata:
120 BCM/jam
Maka equipment cost per BCM adalah:
Rp904.350 ÷ 120
= sekitar Rp7.536/BCM
Jika produktivitas hanya 90 BCM/jam:
Rp904.350 ÷ 90
= sekitar Rp10.048/BCM
Di sinilah produktivitas menjadi sangat penting.
Alat dengan O&O Cost per jam lebih tinggi belum tentu lebih mahal apabila mampu menghasilkan produksi yang jauh lebih besar.
Sebaliknya, alat dengan biaya per jam rendah belum tentu ekonomis apabila produktivitasnya rendah.
EV vs Diesel Sebaiknya Dibandingkan Berdasarkan Cost per Production
Untuk perusahaan tambang maupun konstruksi, evaluasi electric heavy equipment sebaiknya tidak hanya menggunakan pendekatan:
Rp/jam
tetapi dilanjutkan hingga:
Rp/ton, Rp/BCM, Rp/m³ atau Rp/unit produksi lainnya.
Sebagai contoh:
Cost per BCM = Total O&O Cost per Jam ÷ Produktivitas BCM per Jam
Setelah itu barulah electric excavator dan diesel excavator dengan kelas yang sama dapat dibandingkan secara lebih objektif.
Dalam perbandingan yang lebih lengkap, perusahaan juga dapat memasukkan biaya charging infrastructure, downtime charging, utilisasi alat, battery degradation, demand charge listrik serta potensi regenerative energy apabila teknologi alat mendukungnya.
Kesimpulan
Menghitung Owning & Operating Cost alat berat EV sebenarnya menggunakan prinsip yang hampir sama dengan alat berat diesel. Perbedaannya terletak pada beberapa komponen biaya.
Fuel cost digantikan dengan electricity cost, sementara battery menjadi komponen penting yang tidak ditemukan pada alat berat diesel konvensional.
Dalam contoh electric excavator 20 ton di atas, diperoleh:
Owning Cost: Rp335.350/jam
Operating Cost: Rp569.000/jam
Total O&O Cost: Rp904.350/jam
Dengan produktivitas 120 BCM/jam, biaya alat menjadi sekitar:
Rp7.536/BCM
Namun angka tersebut bukan standar biaya electric excavator. Hasil sebenarnya sangat dipengaruhi harga unit, tarif listrik, konsumsi energi, umur baterai, jam operasi tahunan, kondisi medan, produktivitas dan strategi maintenance.
Karena itulah, ketika perusahaan mulai mempertimbangkan alat berat EV, pertanyaan yang tepat bukan sekadar “berapa hemat listriknya dibanding solar?”, melainkan “berapa total cost untuk menghasilkan setiap ton atau BCM produksi selama umur ekonomis alat?”
Pendekatan inilah yang memberikan gambaran lebih nyata apakah investasi alat berat EV benar-benar lebih ekonomis dibanding unit diesel.
(TS)
Related posts:
Berapa Jumlah Dump Truck yang Ideal untuk 1 Excavator? Begini Cara Menghitungnya
Produktivitas Motor Grader: Cara Menghitung dan Contoh Perhitungan di Lapangan
Prosedur Memarkir Alat Berat EV: Jangan Sembarangan Mematikan dan Meninggalkannya
Teknologi Idle Shutdown pada Alat Berat untuk Mengurangi Pemborosan Solar
Mengenal REEV pada Dump Truck Tambang: Saat Motor Listrik Mendapat Dukungan Range Extender
Mengenal Retarder pada Dump Truck: Teknologi Penting untuk Mengendalikan Beban Berat di Jalan Menuru...
