
Forklift sering dianggap sebagai alat yang tugasnya hanya mengangkat dan memindahkan material dari satu titik ke titik lain. Padahal, dalam operasi pergudangan, workshop, manufaktur, maupun area proyek, kemampuan forklift menghasilkan pekerjaan dalam satu jam tidak hanya ditentukan oleh kapasitas angkatnya. Faktor seperti jarak pemindahan, kecepatan perjalanan, waktu mengambil dan menurunkan beban, kondisi permukaan, hingga keterampilan operator ikut menentukan seberapa besar produktivitas aktual yang dapat dicapai.
Karena itu, mengetahui bahwa sebuah forklift memiliki kapasitas angkat 3 ton belum cukup untuk memperkirakan berapa ton material yang dapat dipindahkan dalam satu jam. Perhitungan produktivitas harus dimulai dari cycle time, kemudian dikombinasikan dengan kapasitas beban dan tingkat utilisasi alat.
Memahami Cycle Time Forklift
Cycle time merupakan waktu yang diperlukan forklift untuk menyelesaikan satu siklus pekerjaan. Untuk aktivitas pemindahan material sederhana, satu siklus dapat dimulai ketika forklift mengambil beban di titik asal, membawa beban menuju lokasi tujuan, menurunkan beban, kemudian kembali ke titik awal dalam kondisi kosong.
Secara sederhana, cycle time dapat dirumuskan sebagai:
Cycle Time = Loading + Perjalanan Bermuatan + Unloading + Perjalanan Kosong + Manuver
Sebagai contoh, kita gunakan forklift diesel berkapasitas 3 ton yang bekerja di area workshop dengan permukaan relatif rata. Jarak pemindahan material ditetapkan 50 meter.
Agar perhitungan lebih realistis, diasumsikan forklift membawa beban 3 ton dengan kecepatan rata-rata saat bermuatan sebesar 8 km/jam, sedangkan kecepatan saat kembali tanpa muatan sekitar 10 km/jam.
Kecepatan tersebut perlu dikonversi terlebih dahulu menjadi meter per menit. Kecepatan 8 km/jam setara dengan sekitar 133,3 meter per menit. Dengan jarak 50 meter, waktu perjalanan bermuatan menjadi:
50 ÷ 133,3 = 0,375 menit atau sekitar 22,5 detik.
Sementara itu, perjalanan kembali sejauh 50 meter dengan kecepatan 10 km/jam atau sekitar 166,7 meter per menit membutuhkan:
50 ÷ 166,7 = 0,30 menit atau sekitar 18 detik.
Namun perjalanan bukan satu-satunya komponen cycle time. Forklift juga membutuhkan waktu untuk memposisikan fork, mengambil pallet, mengangkat beban, melakukan manuver, menurunkan material, dan kembali mengambil posisi untuk siklus berikutnya.
Misalnya, asumsi waktu operasi adalah sebagai berikut:
| Komponen pekerjaan | Waktu |
|---|---|
| Mengambil dan mengangkat beban | 15 detik |
| Perjalanan bermuatan 50 m | 22,5 detik |
| Menurunkan dan meletakkan beban | 15 detik |
| Perjalanan kembali tanpa muatan | 18 detik |
| Manuver dan positioning | 10 detik |
| Total cycle time | 80,5 detik |
Dengan demikian, satu siklus membutuhkan sekitar 80,5 detik, atau sekitar 1,34 menit.
Menghitung Produktivitas Teoritis
Setelah cycle time diketahui, produktivitas teoritis dapat dihitung dengan membandingkan waktu kerja satu jam dengan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus.
Dalam satu jam terdapat 3.600 detik. Dengan cycle time 80,5 detik, jumlah siklus teoritis adalah:
3.600 ÷ 80,5 = 44,72 siklus/jam.
Jika setiap siklus membawa beban 3 ton, maka produktivitas teoritisnya:
44,72 × 3 ton = 134,16 ton/jam.
Angka 134,16 ton/jam terlihat sangat tinggi, tetapi angka tersebut belum dapat dianggap sebagai produktivitas aktual di lapangan karena kondisi operasi hampir tidak pernah berjalan 100 persen efektif selama satu jam penuh.
Forklift bisa berhenti karena menunggu material, antre di titik loading, melakukan manuver, menghadapi lalu lintas internal, atau operator membutuhkan waktu untuk melakukan positioning. Karena itu, produktivitas teoritis perlu dikalikan dengan job efficiency atau utilisasi kerja.
Produktivitas Aktual Lebih Realistis
Misalnya tingkat efisiensi kerja ditetapkan sebesar 75 persen. Maka produktivitas aktual dapat dihitung:
134,16 × 75% = 100,62 ton/jam.
Dengan asumsi tersebut, forklift diesel 3 ton secara teoritis mampu memindahkan sekitar 100,6 ton material per jam.
Jika durasi kerja efektif mencapai 8 jam per hari, angka tersebut secara matematis menjadi:
100,62 × 8 = 804,96 ton/hari.
Namun angka ini tetap harus diperlakukan sebagai estimasi berdasarkan kondisi dan asumsi tertentu, bukan sebagai angka produksi yang pasti akan dicapai setiap hari.
Mengapa Kapasitas 3 Ton Tidak Selalu Digunakan Penuh?
Dalam praktiknya, forklift berkapasitas 3 ton tidak selalu mengangkut beban tepat 3 ton. Berat material dapat berubah, begitu pula dengan jenis pallet, dimensi material, posisi pusat gravitasi, dan ketinggian pengangkatan.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah load center. Kapasitas nominal forklift umumnya ditentukan berdasarkan kondisi tertentu, termasuk jarak pusat beban. Ketika pusat beban semakin jauh dari heel fork, kemampuan forklift dalam mengangkat beban dapat berkurang.
Artinya, perhitungan produktivitas tidak seharusnya hanya menggunakan angka 3 ton dari spesifikasi alat. Untuk pekerjaan aktual, kapasitas angkut yang aman harus disesuaikan dengan kondisi beban dan load chart atau data kapasitas forklift yang digunakan.
Jarak Pemindahan Sangat Menentukan
Salah satu variabel paling penting dalam produktivitas forklift adalah jarak pemindahan. Semakin jauh material harus dipindahkan, semakin besar waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu cycle.
Sebagai gambaran, forklift dengan cycle time 80,5 detik pada jarak 50 meter memiliki peluang menyelesaikan sekitar 44,7 siklus per jam secara teoritis. Apabila jarak pemindahan meningkat menjadi 100 meter, waktu perjalanan bermuatan dan perjalanan kosong ikut meningkat sehingga cycle time menjadi lebih panjang.
Akibatnya, jumlah siklus per jam turun dan produktivitas ikut berkurang meskipun forklift yang digunakan tetap sama.
Inilah alasan mengapa layout workshop atau gudang memiliki pengaruh besar terhadap biaya material handling. Memperpendek jarak perpindahan material beberapa puluh meter saja dapat memberikan dampak terhadap jumlah cycle yang mampu diselesaikan dalam satu jam.
Produktivitas Harus Dikaitkan dengan Biaya
Perhitungan produktivitas menjadi jauh lebih berguna apabila dikaitkan dengan owning and operating cost forklift. Dari sisi manajemen alat, tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui berapa ton material yang dapat dipindahkan, tetapi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap ton material.
Misalnya total biaya kepemilikan dan operasi forklift setelah memperhitungkan depresiasi, bunga atau biaya modal, bahan bakar, maintenance, ban, lubricant, operator, dan biaya lainnya adalah Rp150.000 per jam.
Dengan produktivitas aktual sebesar 100,62 ton/jam, maka biaya material handling dapat diperkirakan:
Rp150.000 ÷ 100,62 = sekitar Rp1.491 per ton.
Angka inilah yang lebih menarik bagi perusahaan karena dapat digunakan untuk membandingkan efisiensi forklift dengan metode material handling lainnya.
Jangan Hanya Melihat Spesifikasi
Kapasitas angkat memang merupakan salah satu parameter utama ketika memilih forklift, tetapi bukan satu-satunya indikator produktivitas. Forklift 3 ton yang bekerja dengan cycle time panjang belum tentu lebih produktif dibandingkan unit dengan kapasitas sama yang bekerja pada layout lebih efisien.
Karena itu, ketika melakukan perencanaan material handling, beberapa parameter sebaiknya dianalisis secara bersamaan, mulai dari kapasitas beban, load center, jarak pemindahan, kecepatan perjalanan, waktu loading dan unloading, kondisi lantai, jumlah hambatan, tingkat utilisasi, hingga keterampilan operator.
Dari seluruh parameter tersebut, cycle time menjadi salah satu kunci utama karena semakin singkat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus dengan tetap mempertahankan aspek keselamatan, semakin banyak material yang dapat dipindahkan dalam periode kerja yang sama.
Pada akhirnya, produktivitas forklift bukan sekadar pertanyaan mengenai apakah sebuah unit mampu mengangkat 3 ton. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah berapa ton material yang mampu dipindahkan secara aman, konsisten, dan ekonomis dalam satu jam operasi. Dengan pendekatan tersebut, keputusan memilih, membeli, menyewa, maupun menentukan jumlah forklift yang dibutuhkan dapat dilakukan berdasarkan data operasi, bukan hanya berdasarkan angka kapasitas angkat yang tercantum dalam brosur.
(ES)
Related posts:
Cara Menghitung Kebutuhan Charging Facility untuk Alat Berat EV
Harga Beli Bukan Biaya Sebenarnya: Bongkar Owning & Operating Cost Alat Berat
Repair or Replace: Kapan Komponen Alat Berat Sebaiknya Diperbaiki atau Diganti?
Bucket Tooth Aftermarket: Jangan Terjebak Harga Murah, Hitung Cost per BCM!
Prosedur Memarkir Alat Berat EV: Jangan Sembarangan Mematikan dan Meninggalkannya
Cara Menghitung Tarif Rental Alat Berat Berdasarkan Owning & Operating Cost
